MGR. MICHAEL COSMAS ANGKUR, OFM.

"In Verbo Tuo", karena Engkaulah yang menyuruh, aku akan menebarkan jala juga (Lk 5:5). Kutipan Injil tersebut diambil oleh Pater Michael Angkur OFM sebagai tanggapannya atas perintah Yesus: "Duc in Altum", "bertolaklah ke tempat yang lebih dalam", menjadi motto kegembalaan setelah dengan hati yang bulat menerima tugas baru yang diserahkan kepadanya oleh Sri Paus, Kepala Gereja Katolik.

Petang itu, Jumat, 17 Juni 1994, pukul 15.30, Pater Michael dipanggil ke Kedutaan Besar Vatican. Kepadanya, sekretaris Duta Besar menyerahkan sebuah surat dari Nuntius, yang isinya berbunyi: "… Saya mendapat kehormatan untuk memberitahukan kepada Anda, bahwa Anda telah diangkat oleh Sri Paus untuk menjadi Uskup Keuskupan Bogor. Mohon surat ini dijawab segera dengan tulisan tangan Anda sendiri…"

Pater Michael tidak langsung memberikan jawaban, tetapi meminta waktu untuk berdoa di Kapel Kedutaan. Seusai berdoa, kepadanya diberikan sehelai kertas untuk menulis jawabannya ke Tahta Suci:

Dear Holy Father Pope John Paul II,

Today, June 17th, 1994, I received the news that Your Holiness has appointed me as Bishop of Diocese of Bogor. 
My very first reaction for this big news was 'why me ?'
After reflection and deep prayer, asking the Holy Spirit to help and then my answer is, 'IN VERBO TUO, DOMINE'. I accept this appointment. I'll try to do my best under your direction and the help of the Holy Spirit. Thank you very much.

This acceptance might be promulgated one month from now, or July 17th, 1994.

Sincerely Yours in Christ
Rev. Michael Angkur, OFM

RIWAYAT HIDUP DAN PENDIDIKAN

Michael Angkur dilahirkan di Desa Lewur, Kabupaten Manggarai, Flores-NTT, pada tanggal 4 Januari 1937, sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, dari pasangan Joseph Djadu (U 1971) dan Odilia Mamus(U 1989), pasangan yang pada waktu itu masih menganut kepercayaan tradisional dan belum menjadi Katolik.

Pendidikan formalnya diawali dari SDK Lewur (1945-1948) dan masuk Sekolah Standard di Ranggu-Kolang, Manggarai (1948-1951). Pendidikan menengah di Seminari Mataloko, Bajawa dijalaninya cukup panjang (1951-1960). Niatnya untuk melanjutkan cita-cita menjadi Fransiskan di Jawa, pada awalnya kurang mendapat persetujuan dari Rektor Seminari. Namun, setelah proses perenungan yang cukup, akhirnya niatnya untuk masuk Fransiskan disetujui.

Michael Angkur, yang menjalani pendidikan seminari menengahnya di lingkungan SVD itu, masuk novisiat OFM di Cicurug, Jawa Barat, pada tahun 1960. Setahun kemudian ia mengucapkan kaul sementara dalam Ordo Saudara-saudara Dina. Prasetya kekal diucapkannya pada tahun 1964. Pendidikan filsafat dilaksanakan di Cicurug dan lingkungan Ordo, tetapi pendidikan teologi sebagian dilanjutkan di Yogyakarta. Hal ini disebabkan oleh perpindahan tempat pendidikan para fransiskan muda pada tahun 1965 ke Jakarta (studi filsafat di STFT Driyarkara) dan ke Yogyakarta (studi Teologi di Kentungan).

Pada bulan April 1967, bersama rekannya Alex Lanur OFM, ia menerima pentahbisan diakon dari tangan Mgr. Nicolaus Geise OFM. Beberapa waktu kemudian, tepatnya tanggal 17 Juli 1967, ia ditahbiskan sebagai imam oleh Mgr. Nicolaus Geise OFM di gereja Katedral BMV, Bogor.

 

PENGABDIAN SEBAGAI GEMBALA UMAT

Tugas pertama sebagai gembala umat dijalaninya sebagai Pastor Paroki Waning-Ndoso, Flores-NTT pada bulan November 1967, beberapa bulan setelah ia mengikuti kursus kateketik di Muntilan. Masa pemagangan pastoral di sini didampingi oleh Pater Mezaros SVD dan tiga pater fransiskan lainnya. Sebagai imam muda ia merasakan betapa beratnya bekerja melayani umat, terutama pada saat musim hujan dan tiadanya alat transportasi yang memadai. Kuda merupakan alat transportasi utama. Pengalaman menjadi pastor di Waning, yang hanya berlangsung dua tahun, dirasakannya sebagai pengalaman berpastoral yang paling menyenangkan.

Pada bulan Januari 1969, bersama Bruder Innocentius Kedang OFM, ia berangkat ke Papua (d.h. disebut Irian Barat) dalam rangka ikut serta membangun persaudaraan fransiskan Indonesia bersama saudara-saudara fransiskan misionaris yang masih merupakan anggota dari OFM Provinsi Belanda. Ia diutus menjadi Pastor Paroki Sentani dan merangkap menjadi Direktur Asrama Siswa-siswi SMP Misi di Sentani. Situasi Papua pada waktu itu masih cukup rawan karena sedang menghadapi pergolakan untuk PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), atau yang dikenal dengan nama ACT OF FREE CHOICE. Sebagian rakyat Irian Barat pada waktu itu menginginkan merdeka dan lepas dari Republik Indonesia.

Setengah tahun kemudian, pada bulan Juni 1969, kedua saudara ini dipindahkan ke Lembah Balim, di Pegunungan Jayawijaya, di Kota Wamena. Tujuannya untuk bersama para misionaris yang lain membangun persaudaraan dengan Suku Balim, seraya membangun persaudaraan fransiskan Indonesia. Kemudian pada pertengahan Juli 1969 ia untuk sementara diminta pindah ke Enarotali-Paniai, menggantikan Pater Filiphs Tettero OFM yang sedang cuti. Waktu itu di Enarotali sedang terjadi pergolakan politik antara pemerintah Indonesia dengan gerakan Organisasi Papua Merdeka, yang ingin melepaskan diri dari Indonesia. Pergolakan ini menyebabkan penderitaan bagi masyarakat, yang terpaksa mengungsi ke hutan. Itulah sebabnya, ketika Pater Michael Angkur OFM tiba di Enarotali, praktis tak ada penduduk asli di sana. Yang ada hanyalah anggota ABRI. Dari tempat baru ini, ia juga mendapat tugas melayani Paroki Epouto, yang ditinggal lari umatnya ke hutan karena isu operasi militer yang berawal dari kawasan Waghete. Akhir Agustus ia kembali ke Wamena.

Dari Wamena ia membidani lahirnya sebuah paroki baru di Desa Hepuba, di pintu selatan Lembah Balim, pada bulan November 1969, yang wilayahnya meliputi daerah pesisir gunung bagian barat Lembah Balim, dari Wilayah Silimo sampai Sungai Ibele. Di tempat ini ia harus tidur di HONAI, rumah adat masyarakat setempat, dan merayakan ekaristi di lapangan terbuka.

Tanah Papua rupanya semakin mematangkan bakat pastoralnya sebagai misionaris fransiskan. Bulan Mei 1973, bersama Pater Lambert Dehing OFM (Pemimpin Resort) dan Bruder Eligius Venenteruma OFM, bersepakat untuk membuka sebuah paroki baru di Elegaima, di dekat Sungai Ibele, sebagai upaya untuk mengakhiri situasi permusuhan antar suku di Lembah Balim (Hubi Kosi) dan Kosi Hilapok di pegunungan. Perang suku memang telah memakan banyak korban jiwa. Tahun 1974, paroki ini resmi dibuka dan Pater Michael merangkap sebagai Pastor Parokinya. Memang, antara 1972-1977 terjadi penciutan tenaga pastoral di Balim yang disebabkan oleh banyak hal. Tak mengherankan kalau seorang pastor terpaksa harus bertugas rangkap di beberapa paroki. Paroki-paroki di Balim adalah Hepuba, Pugima, Wamena, Pikhe, Yiwika, Woogi, Musatfak, Elegaima, dan Ilaga.

Pada waktu peresmian gereja paroki di Hepuba, saat natal 1977, Pater Michael diminta untuk pindah ke Jayapura dan menjadi Pastor Paroki Katedral Jayapura. Tugas ini dijalaninya tak terlalu lama karena pada bulan September 1978 ia harus mengikuti kursus pastoral selama tujuh bulan di East Asian Pastoral Institute di Manila, Filipina.

 

PENGABDIAN DALAM LEMBAGA RELIGIUS

Bakat kepemimpinan Pater Michael Angkur OFM sebenarnya sudah nampak sejak muda usia. Sewaktu berkarya di Papua, ia pernah diangkat menjadi Pemimpin Resort Balim dan Pegunungan Bintang (1974-1977). Tugasnya adalah mengkoordinasikan pelayanan pastoral dan persaudaraan para fransiskan di sana.

Sekembalinya dari studi di EAPI Manila, tugas berat telah menantinya, sebagai Vikarius Ordo Fransiskan (1979-1982) untuk Vikariat Misi Fransiskan Indonesia, yang berkedudukan setaraf dengan Provinsial. Pada waktu itu, Ordo Fransiskan di Indonesia belum menjadi sebuah provinsi yang mandiri. Kemudian ia dipilih untuk menjadi Vikarius untuk masa bakti tiga tahun berikutnya (1982-1985).

Vikariat Misi Fransiskan Indonesia ditingkatkan statusnya menjadi provinsi fransiskan di Indonesia pada bulan November 1983, dengan nama Provinsi Santo Michael Malaekat Agung. Pater Michael kemudian ditunjuk oleh Pimpinan Ordo untuk menjadi Provinsial pertama, dengan masa bakti 6 tahun (s.d. 1989). Selama memimpin Ordo Fransiskan di Indonesia, ia sempat menjadi Ketua MASI (Majelis Antar Serikat Imam), dan sekaligus menjadi Ketua MASRI (Majelis Antar Serikat Religius Indonesia). Ia juga terlibat sebagai anggota dalam kerjasama Keluarga Besar Fransiskan Indonesia. Dalam kedudukannya sebagai Provinsial OFM, ia juga ditunjuk oleh Mgr. Leo Soekoto SJ, Uskup Agung Jakarta pada waktu itu, untuk menjadi anggota Dewan Imam dan anggota Kolegium Konsultor KAJ.

Merasa prihatin dengan situasi di Timor Timur, maka atas nama Ordo Fransiskan Indonesia, pada tahun 1988, Pater Michael membuka komunitas OFM di Same atas permintaan Uskup Dioses Dili. Setahun kemudian ia membuka komunitas di Dotik dan Alas, yang kemudian berkembang ke Welaluha (Kiras). Ia ingin membawa misi Santo Fransiskus di tempat ini, "Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai". Dalam situasi konflik perjuangan kemerdekaan Timor Leste, komunitas ini bertahan dalam situasi amat kritis bersama umatnya. Kini, komunitas telah diwarnai oleh putra-putra Timor Leste sendiri, dan telah semakin berkembang.

 

PENGABDIAN DALAM BIDANG KEMASYARAKATAN

Ketika bertugas di Papua, Pater Michael berkiprah bukan hanya dalam lembaga gereja Katolik. Tugasnya sebagai gembala di tempat-tempat yang masih rawan ternyata telah mempercepat proses pematangan bakat kepemimpinannya. Pada bulan Desember 1970 ia diangkat menjadi Ketua DPRD Tingkat II Jayawijaya-Balim, dan berkantor di Wamena. Sebelumnya, jabatan Ketua DPRD dirangkap oleh Bupati. 

Dalam Pemilihan Umum ke-2, tahun 1971, Pater Michael Angkur dipilih menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Irian Jaya, sampai tahun 1977. Kemudian dalam Pemilu 1977, ia kembali dipilih untuk menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Irian Jaya. Selama masa baktinya di lembaga legislatif Provinsi Irian Jaya, ia aktif terlibat di Komisi II yang membidangi masalah-masalah agama, sosial, dan pendidikan.

 

DARI PANTI ASUHAN MENUJU TAHTA USKUP BOGOR

Selepas masa baktinya sebagai Provinsial OFM, Pater Michael kembali berkarya sebagai gembala umat di Paroki Santo Paskalis, Cempaka Putih, Keuskupan Agung Jakarta (1989-1993). Pada saat itu, tenaganya juga masih sangat dibutuhkan untuk tetap memperkuat pelayanan kepemimpinan Ordo Fransiskan Provinsi St. Michael Malaekat Agung. Ia ditunjuk sebagai Ekonom Provinsi.

Dari Cempaka Putih, ia berpindah tugas menjadi Direktur Panti Asuhan Vincentius, Jakarta, untuk memperhatikan kepentingan anak-anak yang berada dalam kesulitan hidup. Tugas ini dijalaninya hanya beberapa bulan saja, karena pada Juni 1994 ia diangkat oleh Sri Paus Yohannes Paulus II untuk memangku jabatan Uskup di Keuskupan Bogor.

Dalam kapasitasnya sebagai anggota Waligereja di Indonesia, Mgr. Michael Angkur OFM pernah mendapat tugas sebagai Ketua Komisi Keluarga (1994-2000), sebuah komisi yang baru saja dibentuk oleh KWI. Pada era euforia reformasi di Republik Indonesia saat ini, ia ditunjuk sebagai Ketua Komisi Pendidikan dan Ketua MNPK (2000-2003). Bersama dengan tokoh-tokoh pendidikan nasional ia kini sedang menghadapi ujian yang amat berat untuk turut menyempurnakan RUU Sisdiknas, yang lebih berwawasan kebangsaan.

 

PENUTUP

Itulah riwayat Uskup Bogor yang telah mengantar umatnya memasuki millennium baru, dan mengantar umatnya untuk mereposisikan kembali keberadaan gereja di Tatar Sunda melalui SINODE 2002. Perjalanan hidup dari salah seorang putra terbaik bangsa ini. Dan sekaligus merupakan perjalanan iman dari salah seorang putra terbaik gereja katolik di Indonesia, yang telah mengarungi 43 tahun kehidupan religius, 36 tahun sebagai imam, dan 9 tahun sebagai Uskup Bogor.

(Agustinus Surianto Pr. Sumber: dokumentasi pribadi Mgr. Michael Angkur OFM)

 

 

 

SEMBOYAN

1. Bunyi semboyan: IN VERBO TUO (lk. 5:5)
Semboyan ini dipilih karena perikop LK 5:1-11, menarik perhatian saya sewaktu akan mengambil keputusan untuk menerima penunjukkan sebagai Uskup Bogor.

2. Arti kata: In Verbo Tuo, berarti harafiah: dalam Firman-Mu.
Dalam terjemahan resmi Alkitab: "Karena Engkau yang menyuruh".

3. Pesan yang ditangkap dan komitmen yang mau diambil:
l Saya percaya dan merasa yakin akan kekuatan kuasa Allah dalam firman-Nya, dan mau mengandalkan Dia yang memanggil, memilih dan mengutus.
l Saya mau menyerahkan diri dalam ketaatan iman seperti teladan yang diberikan Simon Petrus.
l Suatu niat untuk menyadari keterbatasan, kelemahan dan kekurangan serta selalu mau bertobat. Berjanji untuk tidak putus asa melainkan bekerja keras kendati mengalami kegagalan.

 

LAMBANG (Logo)

1. Keterangan umum :

a. Lambang ini dibuat oleh Frater Sylvester Dwi Adikuncoro OFM, gagasan dari P. Michael Angkur OFM.
b. Keseluruhan Lambang menampilkan kesederhanaan, transparan. Itu dinyatakan dalam paduan warna. Back to Nature.
c. Bagian luar, yang terdiri dari tali, topi atas, tongkat dan mintra, adalah lambang hirarki gereja.
Bagian dalam, seperti dua belahan paru-paru yang dibatasi oleh Tau (T). Bagian kiri, terdiri dari langit, bintang, laut dan perahu.
Bagian kanan, terdiri dari daratan, jalan, hutan dan gunung.
d. Gagasan di belakangnya: agar keuskupan Bogor dapat berfungsi sebagai paru-paru yang memberi udara segar dipantai dan pedalaman.

2. Masing-masing unsur :
TAU (T) :
l Tempatnya sebagai pusat dan mengayomi, nampak seperti jangkar.
l Huruf T (Tau) dalam Yeh. 9: 4, 6b, sebagai tanda pengenal milik Allah. T, dalam tradisi fransiskan adalah lambang salib Kristus dan Stigmata Fransiskus. Tanda pengenal pengikut Fransiskus (Leg. Maj. IV:9).

Laut, Perahu, Jala :
l Dasar biblis lambang/logi ini (LK 5:1-11)
l Perahu dan laut bergelombang-menyinggung Gereja yang mengarungi zaman.
l Jala terikat pada Tau, mau mengartikan bahwa seluruh karya pewartaan berpusat pada Kristus dan bersumber daripada-Nya.

Bintang :
l Menunjuk Pancasila (Sila pertama lambang Negara, Ketuhanan Yang Maha Esa).
l Menunjuk juga Kristus sebagai Bintang Kejora, tanda fajar bagi para Nelayan. Menunjuk juga Maria Bintang Laut.

Rumah-rumah :
l Atas, warna putih, menunjuk pemukiman, Rumah-rumah peristirahatan, Hotel-hotel, tempat-tempat penyegaran rohani dan jasmani.
l Bawah, warna hitam dan putih, Kota-kota besar, Industri-industri, Pabrik-pabrik dan Perusahaan-perusahaan yang tersebar di Kabupaten Bogor, Serang.

Jalan Tol :
Melambangkan kemajuan dan transportasi dan perhubungan.

Hutan :
Melambangkan Kebun Raya Bogor, Hutan-hutan Lindung, Cagar Alam, Perkebunan-perkebunan.

Gunung, dengan 4 puncak :
Menunjuk ke-empat gunung yang besar, yaitu: Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Karang.

Moga-moga seluruh pelayanan berpusat pada Kristus dan demi Kristus, dan dengan tangan terbuka merangkul semua yang tersirat dalam Lambang (In Verbo Tuo).

(Sumber: Buku Kenangan Tahbisan Uskup Bogor, 1994)