Paroki Santo Fransiskus Asisi Sukasari Bogor

 

index
peta
paroki

Nama Pelindung : Santo Fransiskus Asisi
Buku Paroki : Sejak tahun 1963
Sebelumnya di katedral Bogor
Alamat : Jalan Siliwangi Nomor 50 Bogor 16131
Telepon (0251) 8324621, Fax: (0251)8322363
Romo Paroki : RD. Ignatius Heru Wihardono



Latar Belakang Sejarah
Komplek Gereja Fransiskus Assisi Bogor tadinya adalah peninggalan almarhum Bp. Hoo Tian Hoei. Peninggalannya berupa tanah seluas 11.231 meter persegi. Diatas tanah tersebut telah berdidir bangunan sekolah yang bernama Cheng Chung/Chinese Methodis School, yang di kelola oleh Badan Pengurus Hua Chiua Yoen. Kemudian sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Nasional yang berada di bawah Badan Pengurus Nasional.

Diatas tanah tersebut terdapat dua buah bangunan gedung tua yang berukuaran besar dan kecil dengan gaya Arsitektur Belanda. Gedung itu dahulu kosongdan hanya di pergunakan untuk tempat pertemuan dan tempat menyimpan karet mentah, karena di belakang gedung tersebut terdapat perkebunan karet. 

Pada tanggal 27 Oktober 1958, Pastor Rd. Mas C.S. Tjiptokusumo Pr, yang bertindak sebagai kuasa dari Yayasan Bakti mengajukan permohonan kepada Menteri Agraria di Bandung melalui Kepala Inspeksi Agraria Bandung untuk pemindahan hak atas lahan tersebut, dari almarhum Bp. Hoo Tian Hoei kepada Pastor Rd. Mas C.S Tjiptokusumo Pr yang bertindak untuk dan atas nama Misi Katolik Bogor.

Setelah mendapat persetujuan dari Badan Pengurus Hua Chiua Yuen She (Tjoa Koen Tian ), Badan Pengurus Sekolah Nasional (Oey Tjin Bie), Kepala Kantor Inspeksi Sekolah Rakyat Kabupaten/Kotapraja Bogor (RE. Hidajat), dan Kepala Kantor Urusan Perumahan Daerah Swatantra Tingkat I Jawa Barat (R. Sjarief Soerjanatamihardja), maka pada tanggal 13 Oktober 1959 di tanda tanganilah Surat Perjanjian Jual Beli antara pihak penjual Ny. Thung Liong Oen-Hoo Goat Hiang dengan pihak pembeli atas nama Mgr. Dr. N. Geise OFM.

Era Baru sebagai Paroki
Setelah Sekolah Nasional di bubarkan, gedungnya di pakai oleh Keuskupan untuk Seminari. Namun tak berlangsung lama, karena pada tanggal 1 Agustus 1963, Seminari dipindah lagi ke gedung Vincentius di jalan Kapten Muslihat 22 (kompleks Katedral). Gedung eks sekolah ini kemudian sedikit demi sedikit diperbaiki agar layak di jadikan tempat ibadah.

Tahun 1963 adalah tahun bersejarah, karena sejak saat itu, Sukasari telah menjadi Paroki tersendiri, lepas dari Paroki Katedral. Dalam buku baptis tercatat bahwa umat pertama yang di baptis sebagai warga paroki baru ini adalah Paulus Ang Sui Hou, yang lahir tanggal 2 Agustus 1963 dan di baptis 5 Agustus 1963 di Kapel Susteran Bondongan. Almarhum Pater Kohler OFM, yang sejak 1962 diserahi reksa pastoral daerah sukasari, resmi menjadi pastor Paroki pertama. Setelah 5 tahun mengembalakan umat sukasari, tahun 1967 ia kembali ke negeri Belanda dan menetap disana sampai meninggal pada tahun 1976 dalam usia 67 tahun. Tahun-tahun pertama ini ditandai oleh pertambahan umat yang cukup pesat. Pater Bonaventura Satuan OFM turut mendampingi Pater Kohler, sebelum ditugaskan ke Flores.

Pater van Genuchten OFM di tunjuk sebagai Pastor Paroki ke dua. Ia dibantu oleh P. Vincenthe Kunrath OFM. Mereka tidak lama bertugas disini setelah perpindahan ke dua gembala ini, sukasari mengalami kekosongan tenaga. Pater A.J.H. Schellart SMM, seorang Pastor tamu dari Kalimantan yang untuk sementara waktu tinggal di Bondongan, membantu pelayanan umat Sukasari. Kekosongan ini kemudian di isi untuk sementara oleh P. EJ Rijper OFM, sampai di tugaskannya P. Felix Bos OFM dari Cicurug untuk melayani Sukasari. Ia di Bantu oleh P. Alex Lanur OFM dan beberapa bruder dari Cicurug.

Akhir 1970 Pater Felix Bos meninggal di Cicurug, 8 bulan setelah bertugas di Sukasari. P. Alex Lanur pun berpindah tugas. Maka kini Sukasari kembali mengalami kekosongan Pastor. Awal 1971, Pater Jan Pruim OFM di tugaskan menjadi Pastor Paroki Sukasari. Setahun kemudian ia dibantu oleh Yohanes Ma'mun Muchtar OFM, imam muda yang merupakan putra sunda pertama dan satu-satunya dari Keuskupan Bogor pada waktu itu yang menjadi Pastor. Pater Ma'mun hanya setahun bertugas di Sukasari karena kemudian ia di tugas/belajarkan keluar negeri oleh pimpinan Fransiskan. Pada bulan Oktober 1974, Pater Rijper yang sebelumnya menjabat Pastor Paroki Katedral kembali menjadi Pastor Paroki Sukasari.
Renovasi Gereja dan Perkembangan
Paroki
Pada masa penggembalaan Pater Rijper yang kedua kalinya inilah gedung gereja mengalami perubahan bentuk. Tanggal 5 Oktober 1975, gereja baru diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono Pr yang baru 5 bulan di tahbiskan menjadi Uskup Bogor menggantikan Mgr. Geise OFM. Paroki semakin semarak dengan hadirnya seorang imam muda, P. Yuseph Hardjono Pr, yang juga di tahbiskan disini. Setelah satu tahun bertugas, ia dipindah tugaskan ke Rangkas Bitung. Untuk mengisi kekosongan, di tugaskanlah Pater J. Peperzak OFM dan Pater JMW Demmers OFM. Pater J. Peperzak tiba di Sukasari bulan Agustus 1978. sedangkan Pater Dimmers, Pastor yang sudah sangat berpengalaman dalam mengurus persekolahan, baru tiba disini pada akhir 1978.

Pater Peperzak kembali ke negeri Belanda pada awal 1981. Kekurangan tenaga di Sukasari kemudian diisi untuk sementara oleh seorang Pastor tamu berkebangsaan Perancis, Pater Roger Biancheti, yang pernah cukup lama di Vietnam dan Timtim. Akhir 1982, P. Rijper menjalani cuti ke Belanda dan kemudian pindah ke Cibinong. Sebagai gantinya ditunjuklah Pater Yustinus Semium OFM, yang baru saja menyelesaikan studi di Filipina. Januari 1983, tenaga pelayan di perkuat oleh Pater Kornelius Keyrans OFM, yang sebelumnya bertugas di Paroki Paskalis, Tanah Tinggi, Jakarta. Setahun kemudian, pada awal 1984 datang pula P. Nicholas Dhartosuratno OFM untuk memperkuat tenaga pastoral selama setahun sampai April 1985.

Beberapa hal yang terjadi selama dasawarsa 80-an ini antara lain: pemekaran wilayah menjadi 5 wilayah, yang terbagi dalam lingkungan dan rukun; pembentukan rukun ibu-ibu St. Clara dan rukun St. Franciskus untuk para bapak; menghidupkan kelompok kaum muda: Mudika, Putra Altar, dan Legio Maria.

Sejak tahun 1985, setiap tahun paroki Sukasari di beri kepercayaan untuk membimbing seorang frater praja dalam menjalani orientasi pastoral. Pada pesta Santo Franciskus Assisi, 4 Oktober 1987, paroki ini dipercaya untuk menyelenggarakan tahbisan diakon Fr. Fabianus dan Fr. Simbul Gaib, yang di lanjutkan dengan tahbisan imamat mereka berdua pada tanggal 24 April 1988.

Bulan April 1990, Pater Kornelius yang telah 7 tahun melayani Sukasari dipindah tugaskan ke Cianjur. Sementara itu P. Agust Surianto Pr, yang persis setahun berpastoral disini, setelah di tahbiskan menjadi imam ditugaskan di Sukasari. Dua tahun kemudian, P. Ridwan Amo Pr dan Fr. St. Pujiantoro Pr memperkuat tenaga pastoral di sukasari. Gedung gereja sudah mengalami kerusakan di sana-sini. Maka pada akhir tahun 1992 diadakan renovasi sebagian, dengan mengganti panti imam, plafon, toilet, dan koridor di depan gedung gereja.

Masa pemantapan Kembali
Setelah melalui suatu masa transisi yang sangat pahit, Administrator Apostolik unutk keuskupan Bogor, Mgr. Leo Soekoto SJ, mrombak seluruh personil pastoral di paroki Sukasari. P. Tarcisus Suyoto Pr dan P. Yoh. Hardono Pr diminta menjadi Pastor pembantu untuk mendampingi Mgr. V. kartosiswoyo Pr, yang di tunjuk menjadi Pastor Proki. Struktur Dewan Paroki dan pranata perlengkapannya ditata ulang. Pastoran direnovasi dengan dukungan dana swadaya dan sumbangan dari Pusat Misi Fransiskan di Jerman. Bulan Juli 1995. P. Benedictus Sudjarwo Pr ditunjuk sebagai Pastor Paroki yang baru menggantikan Mgr. V. kartosiswoyo Pr yang mendapat tugas baru du Keuskupan Agung Semarang setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Sekretaris Eksekutif KWI.

Beberapa Yayasan

A. Yayasan Melania
Ide untuk mendirikan Yayasan Melania Bogor di prakarsai oleh tiga aktivia Wanita Katolik saat itu, yakni Ibu Suhardo, Ibu Julianti dan Onnie Zaenudin. Ibu Khoo Tjok King, dari Yayasan Melania Pusat di Jakarta sangat membantu dan mendukung sampai terbentuknya secara resmi Yayasan Melania Bogor. Ide ini di kuatkan dan didukung oleh Pastor J.B. Perpezak OFM, yang akhirnya di tugaskan sebagai moderator pertama Yayasan Melania Bogor, yang berdiri tahun 1962.

Tujuan utama dibentuknya Yayaysan ini yaitu untuk mengembangkan karya pelayanan terhadap masyarakat. Dengan persetujuan Uskup Bogor Mgr. Prof. Dr. N. geise OFM, akhirnya disetujuai untuk menempatkan Yayasan Melania di rumah Pastoran yang berada di Bondongan.

Sebagai penanggung jawab pada saat itu adalah Dr. Loka Cahyana. Karya pelayanan tersebut menjadi sempurna ketika tangis bayi pertama bergema di ruang bersalin tanggal 8 Desember 1962, dan pada tanggal tersebut dijadikan tradisi bagi Yayasan Melania Bogor untuk memperingati hari ulang tahunnya.

B. Yayasan Mardi Yuana
Sekolah Mardiyuan teletak di dalam Komplek Gereja Sukasari, Jl. Siliwangi no. 50 Bogor. Sekolah ini dikelola oleh Yayasan Mardi Yuana Sukabumi dan Di Bogor.

Pada tanggal 11 Mei 1960 diserah terimakan kepengurusannya pengelolaan Sekolah Nasional kepada Sekolah Yayasan Perguruan Mardi Yuana. Sebagai Ketua Yayasan pada waktu itu adalah Pastur Rd. Mas C.S. Tjiptokusumo Pr (almarhum), sedangkan Sekolah Nasional masih berkarya sampai bulan Juni 1960.

Perwakilan Yayasan Mardi Yuana I Bogor saat ini mengelola unit-unit: TK, SD, SLTP, SMU dan SMK Grafika, dengan satu SD di Jl. Kapten Muslihat 22 Bogor.

Diwilayah Paroki Sukasari masih terdapat Sekolah Mardi Yuana II Bogor, yang terletak di Jl. Pahlawan, yang menyelenggarakan TK, SD, dan SMP.

Statistik Umat Paroki
Pertambahan umat sangat tersa sekali pada tahun-tahun terakhir. Jumlah umat saat ini sekitar 4700 jiwa, 1527 Kepala Keluarga. Mayoritas keturunan Cina dan Jawa.

Paroki Santo Fransiskus Assisi terbagi menjadi 5 Wilayah, yang terdiri dari 24 Lingkungan, 105 Rukun.


Beberapa Kegiatan Paroki
a. komsos
sejak sebelum Berita paroki sukasari terbit, umat menggunakan fasilitas BERITA UMAT Paroki Katedral sebagai warta paroki karena memang Paroki Sukasari alah pemekaran dari Paroki Katedral.

Berita Paroki adalah majalah intern Paroki Santo Fransiskus Assisi Sukasari Bogor yang mulai terbit pada awal bulan Juni 1991, dirintis oleh Romo Agustinus Surianto Pr. Dan Ibu Conny Susanto. Berita Paroki Terbit setiap bulan dan memuat berbagai macam informasi yang temanya berbeda setiap bulannya. Di Paroki ini juga terletak satu-satunya percetakan milik Keuskupan Bogor, yang pada 1 Januari 1999 ini genap berusia 30 tahunan.

b. Novena Santo Antonius
Setiap tanggal 13 Juni , Gereja Sukasari dimulailah Novena Santo Antonius dan Pandua dan dilanjutkan setiap hari selasa dan berikutnya selama 8 kali berturut-turut. Novena yang biasanya dilaksanakan dalam Misa Kudus dengan tema berbeda setiap minggunya ini, telah berjalan rutin sejak tahun 1969.

c. Novena Roh Kudus
Sudah menjadi kebiasaan umat di sini untuk menantikan kedatangan Roh Kudus dengan mengadakan Novena Roh Kudus yang dimulai setelah Hari Raya Pentakosta.

d. Pengembangan Sosial Ekonomi
Sampai saat ini PSE Paroki Sukasari dapat menggelar pelayanan: Sosial Kritatif, Pjaman Uang, Konsultasi, Bantuan Kesehatan.

e. Bina Iman
Bina Iman anak-anak sampai dengan SD, ada 4 Kelompok: Bina Iman Gereja Sukasari, Bina Iman Kapel Bondongan, Bina Iman Cipaku, dan Bina Iman Katulampa.

F. Mudika
Merupakan wadah dimana para Muda-mudi Katolik berkumpul dan melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan kerohanian. Masing-masing wilayah mempunyai organisasi Mudika, dan sebagai pusatnya adalah Mudika Santo Fransisikus Assisi Suksari Bogor.

g. Kapel Bondongan
Paroki ini memiliki sebuah Kapel di Jl. Pahlawan, yang berada di biara Suster Fransiskanes Sukabumi/Mardi Yuana II.

h. Misa Jum'at Pertama di Ciawi
-Sejak tahun 1978 dirintis pelaksanaan Misa Jum'at Pertama di Ciawi (tepatnya di rumah Kel. Poniran, Jl. Raya Sukabumi) oleh Kel. Ibu Poniran , Kel. Bp. Agus, Kel. Bp. Sigit, Kel. Bp. Slamet, dan para karyawan PT. Ratna.

Para Imam yang pernah berkarya di Paroki Sukasari
1. Pastor Paroki I: W. Kohler OFM (1959 - Desember 1967), beserta: C.J.V.D. Berg OFM, A. Schellart SMM; H.V. Frans Genucten OFM, Dr. Y. Wijbrands OFM, Alex Lanur OFM: Pembimbing seminari sampai dengan bulan Juni 1964.

2. Pastor Paroki II: H.V. Frans Genuchten OFM (Januari 1968 - Juli 1969), beserta: A. Schellart SMM, Felix Bos OFM.

3. Pastor Paroki III: E.J. Rijper OFM (Agustus 1969- Desember 1970), berserta: A. Schellart SMM, Felix Bos OFM.

4. Pastor Paroki IV: P.G.M. Pruim OFM (Januari1971- Oktober 1974), beserta: Y. Ma'mun Mochtar OFM, A. Brotowiratmo Pr. 

5. Pastor Paroki V: E.J. Rijper OFM (Oktober 1974- Oktober 1982), beserta: Y. Ma'mun Mochtar OFM, A. Brotowiratmo Pr. B. Sudjarwo Pr. Hardjono Pr, J.M.W. Demmers OFM Biancheti.

6. Pastor Paroki VI: Yustinus Semium OFM (Oktober 1982- Oktber 1993), beserta: J.M.W. Demmers OFM, N.S. Dartosuratno OFM, Agustinus Surianto Pr, Cornelius Keyrans OFM, Ridwan Amo Pr, St. Kostka Pujiantoro Pr, T. Suyoto Pr.

7. Pastor Paroki VII: Mgr. V. Kartosiswoyo Pr (Oktober 1993- Juli 1995), beserta: T. Suyoto Pr, Y. Hardono Pr, J.M.W. Demmers OFM, St. Kostika Pujiantoro Pr.

8. Pastor Paroki VIII: B. Sudjarwo Pr, (Juli 1995 - 1999), beserta: J.M.W. Demmers OFM (+ 26 Nopmeber 1996), T. Suyoto Pr, Hardono Pr, H. Y. Sudarto Pr, Y. Dwi Karyanto Pr, Christophorus Lamen Sani Pr, Alfonsus Sutarno Pr.

9. Pastor Paroki IX: n/a


Jadwal Perayaan Ekaristi Gereja "Santo Fransiskus Asssisi" Sukasari, Bogor

Harian : Senin - Jumat Pukul 06.00 WIB
Jumat Pertama : Pukul 17.00 WIB
Sabtu : Pukul 17.00 WIB
Minggu : Pukul 06.30 WIB; 08.30 WIB: dan 17.00 
WIB
Salve Minggu terakhir dalam bulan: sesudah Ekaristi Pukul 17.00 WIB

Kapel Susteran SFS (Bondongan)
Jalan Pahlawan nomor 96 
Bogor 1632
Telepon (0251) 321497

Jadwal Ekaristi :
Harian : Senin Jumat : Pukul 05.30 WIB 
Jumat Pertama : Pukul 05.30 WIB
Sabtu : Pukul 17.00 WIB

Penyusun: B. Sudjarwo Pr./Agust Surianto Pr/ Agelio Wahyudi 





under constructions! thn. 2003