Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober-Desember 2008
 


Penularan Budaya Nilai Dalam Rekoleksi Keluarga

 

Dalam rapat tahunan Komisi Keluarga Regio Jawa Plus tanggal 18 sampai dengan 20 Juli 2008 di Wisma Pratista, Cimahi, Bandung telah dihasilkan beberapa komitmen karya pastoral yang akan dijadikan program kerja masing-masing keuskupan. Salah satu komitmen yang dipilih oleh Komisi Keluarga Keuskupan Bogor adalah mengembangkan Pendidikan Nilai.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut Komisi Keluarga Keuskupan Bogor menyelenggarakan acara Rekoleksi Keluarga atas permintaan suatu kelompok keluarga yang bernama “KBG Bahari - Balikat” yang berasal dari Gereja Katolik Trinitas Paroki Cengkareng Jakarta pada tanggal 6 dan 7 September 2008 di Wisma Erema Cisarua Bogor. Tim yang dipersiapkan untuk menjadi fasilitator acara rekoleksi terdiri dari 9 orang dengan tugas sebagai berikut :

  • 1 orang (Inri) untuk membimbing anak TK, kelas 1 dan 2 SD;

  • 1 orang (Chery) untuk membimbing anak kelas 3 sampai kelas 6 SD;

  • 2 orang (Wenny dan Sisca) untuk membimbing anak SMP dan SMA;

  • 4 orang (Hanny, Nugroho, Siswanto dan Jeffry) untuk membimbing pasutri dan single parent;

  • 1 orang (Clara) untuk bermain musik (gitar).

Selain ke sembilan fasilitator tersebut, kami didampingi juga oleh seorang pastor yaitu RD. FX. Suyana (Sekjen Keuskupan Bogor).

Rekoleksi keluarga tersebut mengambil tema ‘Membangun Budaya Nilai Dalam Keluarga’ yang diikuti oleh 15 pasutri, 7 single parent dan 26 anak dengan jenjang pendidikan TK sampai SMA.

Tepat pukul 16.30 rekoleksi dimulai dengan acara pembukaan yang dibawakan oleh Bapak Stanislaus Nugroho (Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor). Dalam acara pembukaan tersebut masing-masing fasilitator memperkenalkan fasilitator yang berdiri di sebelah kirinya dengan menyebutkan satu sifat positip yang dimilikinya.

Setelah selesai acara pembukaan, maka para peserta rekoleksi dipisah kedalam 4 kelompok, yaitu kelompok TK – 2 SD, 3 – 6 SD, SMP – SMA dan orang tua. Masing-masing kelompok dibimbing oleh fasilitator diruang yang terpisah.

Modul yang diberikan kepada anak-anak terdiri dari 3 modul, yaitu :

· Aku dan Sang Pencipta;
· Aku yang Istimewa;
· Aku dengan keluarga yang terbaik.

Sedangkan modul yang diberikan kepada orangtua, yaitu :

· Panggilan kesejolian,
· Realitas kesejolian:
· Married but single,
· Keluarga sebagai komunitas pribadi-pribadi.

Kedua modul tersebut, baik yang diberikan untuk anak-anak maupun orangtua bermuara pada rekonsiliasi keluarga dengan pembuatan “family statement” dan masing-masing anggota keluarga mengindentifikasikan halangan dalam diri masing-masing dalam usahanya merealisasikan “family statement” tersebut.

Metode yang digunakan untuk anak-anak TK – SD lebih banyak permainan dan untuk anak SMP - SMA selain permainan juga sharing. Sedangkan untuk orang tua mengunakan metode ceramah dan sharing oleh fasilitator dan peserta, refleksi atas perikop yang berkaitan dengan kesejolian dan keluarga sebagai komunitas pribadi-pribadi.

Modul rekoleksi untuk orangtua diarahkan pada tinjauan secara psikologis yang dikaitkan dengan tinjauan teologis. Para peserta diajak untuk merefleksikan :

1. Kej 1:26-27; Mzm 139:15-16 dan Yes 45:18

Refleksi dari perikop di atas :
· Jauh sebelum kita dibuahi dalam kandungan ibu kita, Tuhan sudah merencanakannya. Tuhan
  menciptakan manusia dan seluruh ciptaan-Nya yang lain agar secara tepat, indah dan berfungsi
  secara baik di dalam dunia ini.
· Bahwa Allah telah merencanakan dengan teliti hidup kita masing-masing sesuai dengan tujuan
  yang telah ditentukanNya.
· Setiap orang adalah unik.
· Setiap orang adalah pribadi dan dipanggil dengan tujuan yang khusus, sesuai dengan talenta
  yang diberikan oleh Allah.
· Keunikan manusia menjadi nyata dalam kehidupan berkeluarga, suami, isteri dan anak-anak
  masing adalah pribadi yang unik, tidak ada duanya.

2. Kej 2:21-23 ; Ef 1:9–11; Ef 5:31

Refleksi dari perikop diatas :
· Menyadarkan orang tua bahwa anak adalah buah kasih Allah yang dititipkan untuk
  ditumbuhkembangkan menjadi dewasa dalam segala hal.
· Kesiapan anak untuk hidup mandiri dalam perkawinan.
· Perkawinan sebagai suatu peziarahan hidup, suatu proses membangun kesejolian antara dua
  orang yang masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Lebih-lebih latarbelakang budaya,
  pendidikan, pemikiran, minat dan kepentingan yang berbeda satu dengan lainnya.
· Kehidupan perkawinan merupakan buah kasih Allah yang menjadikan kesejolian antara pasutri.
· Segala permasalahan hidup dalam perkawinan merupakan masalah pasutri yang harus dihadapi
  bersama.
· Perbedaan fisik dan emosi antara pria dan wanita saling melengkapi.
· Kelengkapan hidup perkawinan terjadi karena mereka menyadari adanya martabat yang sama.

3. Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan) art 48 dan Familiaris Consortio art 18 yaitu salah satu misi keluarga adalah membentuk persekutuan pribadi-pribadi - Cintakasih sebagai prinsip dan Kekuatan Persekutuan.

4. Dalam membangun kehidupan berkeluarga harus dihidupkan nilai-nilai kristiani, yaitu : Iman, Harapan, Kasih, Kebijaksanaan, Keadilan, Keberanian dan Kesimbangan.

Acara rekoleksi hari pertama ditutup pukul 10.30 malam dengan ibadat malam yang dibawakan para peserta rekoleksi. Setelah itu para peserta diberi kesempatan untuk melakukan pertobatan dengan melakukan pengakuan dosa di hadapan Romo Yono. Selain itu terdapat peserta yang melakukan konseling dengan Bapak Nugroho dan Ibu Hanny. Konseling tersebut baru selesai pukul 1 pagi dinihari.

Rekoleksi hari kedua dimulai pukul 6.30 pagi dibuka dengan renungan pagi dengan peserta para orangtua saja yang dibawakan oleh Bapak Siswanto. Renungan ini mengambil Perikop Yoh 2:1-11 tentang Perkawinan di Kana. Pada acara renungan peserta diajak untuk melakukan meditasi dengan diiringi instrumen lagu The Lonely Shepherd. Peserta diajak untuk mengingat kembali peziarahan hidupnya mulai sejak kecil sampai akhirnya mereka dapat tetap mempertahankan hidup perkawinan sampai sekarang. Setelah meditasi peserta diminta untuk memaknai hidupnya dengan memberikan sharing kehidupan perkawinan mereka yang dikaitkan dengan perikop di atas.

Hasil permenungan atau refleksi atas perikop diatas :
· Bunda Maria selalu siap sedia menjadi perantara.
· Tuhan Yesus menyediakan diri untuk memberi bantuan tanpa syarat.

Dari perikop tersebut Bunda Maria dan Yesus mengajarkan nilai-nilai yang sangat berharga dalam hidup berkeluarga yaitu
· Proaktif, Empati, Kerendahan Hati, Kerjasama, Pelayanan secara total, Peduli, Peka dan Cepat
  Tanggap akan membentuk keluarga yang harmonis.
· Semua itu hanya bisa terwujud jika setiap anggota keluarga mengembangkan KASIH SAYANG.
· Kasih Sayang berarti pengorbanan, siap selalu memperhatikan yang lain, siap memberi yang
  terbaik bagi orang lain. Pengalaman kasih itu adalah pengalaman hidup yang membahagiakan,
  pengalaman surgawi. Sesungguhnya kita dapat menciptakan surga itu di dunia ini sekarang ini.
· Kita sebagai keluarga, dapat bertahan sampai sekarang, hanya karena adanya Cinta yang
  berlandaskan KASIH SAYANG yang tercermin dari kehidupan Keluarga Kudus Nazaret.

Setelah makan pagi acara dilanjutkan dengan rekonsialiasi keluarga, di mana pasutri dan anak-anaknya secara bersama-sama membuat “family statement” yang didambakannya. Dalam membuat family statement masing-masing keluarga harus mampu mendengarkan keinginan setiap anggota keluarga pada saat mengemukakan pendapat tentang keluarga harmonis yang didambakannya. Sedangkan peserta single parent dengan dibimbing Pak Jeffrey melakukan rekonsiliasi pribadi.

Puncak dari acara rekoleksi terjadi pada perayaan Ekaristi Keluarga yang dipimpin oleh Romo Yono, dengan persembahan berupa “ Family Statement” yang dibuat para peserta.
Pada saat misa ada suatu peristiwa yang sangat mengharukan dan menyentuh hati para orang tua yaitu pada saat setelah homili, Romo mempersilahkan anak-anak maju ke depan untuk mempersembahkan lagu Keluarga Cemara yang inti syairnya berbunyi :

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
..........................
Persembahan lagu tersebut merupakan suatu kejutan bagi para orangtua karena mereka tidak tahu sama sekali akan adanya acara tersebut.

Akhirnya acara rekoleksi ditutup pukul 1 siang dengan pesan yang disampaikan fasilitator (Ibu Hanny) agar masing-masing anggota keluarga, walaupun dengan jatuh bangun dapat mewujudkan “familiy statement” yang telah mereka buat berlandaskan Nilai-Nilai Kristiani yang diajarkan Keluarga Kudus Nazaret.

(R. Siswanto - Anggota Komisi Keluarga Keuskupan Bogor)
 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor